MEDIA BISNIS INDONESIA – Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan jual yang masif pada perdagangan akhir pekan, Jumat, 16 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk secara signifikan hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt), sementara nilai tukar rupiah melemah tajam dan melewati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Kondisi IHSG: Ambruk Dua Digit dan Kena Trading Halt
IHSG dibuka langsung anjlok 8,01% (turun 469,86 poin) ke level 5.393,92 pada pra-perdagangan pagi hari.
Akibat kejatuhan tajam tersebut, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung memberlakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit guna meredam kepanikan pasar.
Tekanan jual tidak mereda setelah perdagangan dibuka kembali. IHSG terpangkas kian dalam hingga tumbang 10,76% (turun 630,77 poin) ke level 5.233 pada penutupan sesi.
Kejatuhan pasar saham ini dipicu oleh sentimen negatif global menyusul pengumuman resmi dari penyedia indeks global, MSCI, yang memulai konsultasi pasar terkait potensi penurunan status (downgrade) pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Langkah ini disorot karena kekhawatiran terkait transparansi kepemilikan saham dan mekanisme perdagangan di bursa.
Seluruh indeks sektoral kompak berada di zona merah. Pelepasan terbesar dialami oleh sektor barang baku yang merosot 12,96%, sektor energi ambrol 12,21%, serta sektor infrastruktur yang melemah 12,13%.
Kondisi Rupiah: Tertekan ke Level Rp18.000/USD
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melanjutkan tren negatifnya dan terjerembab ke kisaran Rp18.027 – Rp18.038 per dolar AS.
Loyosnya mata uang Garuda dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal, termasuk tingginya ekspektasi suku bunga bank sentral AS (The Fed) akibat data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan, serta gelombang keluarnya modal asing (capital outflow) dari pasar keuangan domestik menyusul sentimen ketidakpastian pasar yang meningkat.


Leave a Reply