MEDIA BISNIS INDONESIA — Badan Pengelola (BP) BUMN bersama Daya Anagata Nusantara (Danantara) tengah menghadapi tantangan berat dalam membenahi kondisi keuangan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA. Berdasarkan catatan Danantara, WIKA saat ini memikul beban utang jumbo mencapai sekitar Rp34 triliun.
Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa penyelesaian utang WIKA memakan waktu lebih lama karena kondisi aset penjamin (underlying assets) perusahaan dinilai belum cukup untuk menutup atau menurunkan beban utang tersebut.
Dony menyebutkan bahwa besaran utang WIKA yang mencapai Rp34 triliun tidak diimbangi dengan kekuatan aset yang memadai.
“Kurang lebih utang Wika itu Rp34 triliun. Tapi nggak ada lawannya. Kalaupun nggak ada lawannya, ya Pak Dirut yang baru juga pusing juga,” ujar Dony di Jakarta.
Kompleksitas utang ini turut disumbang oleh berbagai persoalan tagihan proyek masa lalu, termasuk proyek Kereta Cepat (Whoosh) serta sejumlah proyek infrastruktur lainnya yang membebani arus kas perusahaan.
Danantara berkomitmen untuk tidak melakukan restrukturisasi asal-asalan, seperti sekadar memperpanjang tenor utang hingga 30–40 tahun. Langkah tersebut dinilai hanya menunda masalah dan berpotensi menjadi bumerang bagi perusahaan di masa depan. Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, pembenahan harus dilakukan secara tuntas hingga ke akar fundamental.
Danantara saat ini masih memutar otak dan mengkaji formula terbaik untuk menyelamatkan WIKA secara komprehensif. Fokus utama restrukturisasi tidak hanya berpusat pada penanganan utang, tetapi juga perbaikan tata kelola (governance) bisnis secara menyeluruh.
Ke depan, Danantara akan mengubah pola pembiayaan dan manajemen proyek BUMN Karya agar lebih selektif berbasis proyek per proyek (by project), sehingga setiap lini bisnis dapat diukur tingkat profitabilitasnya secara transparan guna mencegah kembalinya krisis keuangan.


Leave a Reply