Media Bisnis Indonesia

—–Business That Inspires—-

Rupiah Makin Terjerembab, Ditutup Rp17.656 per Dolar AS

MEDIA BISNIS INDONESIA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 1,08% ke posisi Rp17.656/US$ di perdagangan spot hari ini, Senin (18/5/2026). Rupiah mencatat rekor penutupan terlemah sepanjang sejarah. 

Pelemahan rupiah kali ini sepertinya bukan sekadar respons jangka pendek terhadap gejolak global. Lebih dari itu, tekanan terhadap rupiah terjadi lantaran adanya peningkatan persepsi risiko terhadap aset Indonesia secara keseluruhan. 

Harga minyak yang masih melambung dan sempat menyentuh US$111 per barel pada perdagangan hari ini memang masih jadi pemicu utama. Jalur distribusi energi global terganggu membuat pasar khawatir terhadap lonjakan inflasi energi dunia.

Kondisi ini praktis jadi sentimen negatif bagi negara-negara emerging markets pengimpor minyak seperti Indonesia. Di Asia, tekanan eksternal dari harga minyak telah membayangi pergerakan mata uang kawasan sejak awal Maret lalu hingga hari ini. 

Namun, tak semua mata uang kawasan melemah. Yuan China dan offshore serta baht Thailand mampu membalikkan keadaan meski penguatannya terbatas. 

ANDA BERUNTUNG !

Sementara, posisi rupiah saat ini menjadi mata uang terlemah di kawasan. Sepertinya faktor eksternal saja tidak cukup untuk menjelaskan besarnya tekanan terhadap rupiah. Depresiasi rupiah yang terjadi sejak pekan lalu secara konsisten tanpa jeda, mengindikasikan bahwa pelaku pasar masih memilih dolar AS sebagai aset aman daripada mempertahankan eksposur mereka di pasar domestik. 

Sebab pada saat yang sama, sejumlah mata uang Asia masih mampu bergerak defensif dan menguat dibanding rupiah. Kondisi ini menunjukkan pasar mulai memberikan premi risiko lebih tinggi terhadap Indonesia, terutama terkait kondisi fiskal dan arus modal asing.

Kekhawatiran tersebut semakin terlihat dari pergerakan pasar obligasi domestik. Yield Surat Utang Negara (SUN) tenor panjang masih bertahan tinggi. Kenaikan yield ini berarti biaya utang pemerintah berpotensi meningkat di tengah kebutuhan pembiayaan APBN yang juga semakin besar.

Di sisi lain, ruang intervensi pemerintah dan Bank Indonesia juga tidak sepenuhnya tanpa batas. Intervensi di pasar valas maupun obligasi memang dapat membantu meredam volatilitas jangka pendek, tetapi sulit mengubah arah tren jika sentimen fundamental belum membaik. 

Apalagi, cadangan devisa telah menyusut sebanyak US$10,27 miliar untuk intervensi di pasar valas. Selain itu, BI juga meningkatkan penggunaan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk mengelola likuiditas dan arus modal. Penerbitan SRBI ini bukan tanpa konsekuensi meningkatnya biaya yang harus ditanggung otoritas moneter untuk menjaga stabilitas tersebut. 

Sepertinya pelemahan rupiah yang semakin cepat mulai memunculkan spekulasi bahwa BI perlu memberikan respons yang lebih tegas melalui kenaikan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam keluarnya arus modal asing.

“Kami berpendapat kenaikan BI Rate dibutuhkan untuk mengurangi distorsi suku bunga pada sektor perbankan,” sebut Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist, Mega Capital Sekuritas dalam catatannya.

Selain itu, pasar tetap menunggu sinyal yang lebih kuat terkait arah kebijakan fiskal, seperti adanya penyesuaian anggaran belanja. Sebab, pasar tampaknya melihat bahwa intervensi valas, operasi moneter, dan pengetatan likuditas yang telah dilakukan beberapa waktu lalu tak lagi cukup untuk membendung tekanan terhadap rupiah. 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *