Media Bisnis Indonesia, Jakarta — SEBANYAK 33 perupa perempuan yang berhimpun di Komppi (Komunitas Perupa Perempuan Indonesia) menggelar pameran lukisan bertajuk Budaya Jakarta Tak Lekang Waktu yang berlangsung di Balaikota DKI Jakarta pada 22-25 September 2025.
Dalam sambutannya Hani Pramono Anung antara lain menyatakan bahwa seni lukis merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya yang berperan penting dalam memperkaya khazanah intelektual serta emosional — baik bagi seniman maupun masyarakat yang menikmati karya seni.
Selaras dengan tema pameran Budaya Jakarta Tak Lekang Waktu, para pelukis mengajak kita untuk merenungkan, menghargai warisan budaya Jakarta di tengah arus globalisasi sekaligus menghidupkan tradisi dan nilai luhur bangsa.
Sementara Indah Soenoko – Ketua Komppi – mengungkapkan bahwa sesuai dengan temanya, pameran tersebut menampilkan karya-karya seni yang terinspirasi dari tradisi dan budaya Betawi seperti tarian, musik rebana, tanjidor, ondel-ondel yang menghibur, upacara adat yang kaya dan khas, kulinernya, begitu pula dengan gedung-gedung yang ikonik dan bersejarah.
Melalui pameran tersebut Indah Soenoko berharap dapat membagikan keindahan dan keunikan budaya Jakarta/Betawi kepada masyarakat luas.
NOSTALGIK
Terlepas dari masalah tersebut, yang jelas pameran bertajuk Budaya Jakarta Tak Lekang Waktu sangat kental dengan nuansa nostalgik.
Seorang pengunjung pameran yang di masa remajanya tinggal di Kampung Pecandran Kelurahan Senayan, Kebayoran Baru – Jakarta Selatan (yang lahannya kini berubah dan dikenal sebagai Kompleks Perumahan Pejabat Tinggi) kepada penulis mengatakan bahwa yang namanya Ondel Ondel, Kerak Telor dan angkutan umum yang dikenal dengan Bemo adalah bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-harinya, terutama dan khususnya apabila ada warga Kampung Pecandran punya hajatan mantu, mengkhitankan putranya, dan naik Bemo dari Santa menuju Taman Puring Mayestik untuk rekreasi bersama keluarga.
Pengunjung pameran yang tak bersedia disebutkan namanya tersebut, melalui penulis berharap agar para perupa perempuan yang berhimpun di Komppi untuk tetap terus berkarya dengan mengangkat tema lukisan yang mengandung nilai-nilai sejarah.
“Dan .. jangan takut .. tetap optimis biarpun sekarang ada yang namanya AI,” katanya seraya mohon izin kepada penulis untuk melihat sebanyak 66 buah lukisan beragam judul terkait Budaya Jakarta Tak Lekang Waktu dengan komposisi dan warna indah yang “mencerahkan” dipandang mata.
SATU SETENGAH BULAN
Pameran bertajuk Budaya Jakarta Tak Lekang Waktu tersebut — seperti yang disampaikan Titiek Ndarys sebagai Kordinator Pameran kepada penulis — persiapannya dilakukan selama enam minggu atau sekitar satu setengah bulan.
“Awalnya pameran akan diselenggarakan 1 September. Tapi, ditunda atau diundur karena situasi dan kondisi Jakarta tidak kondusif, dan Komppi mendapat jadwal 22 hingga 25 September, Mas,” ujar Titiek Ndaris.
Menjawab pertanyaan mengenai lukisan yang terjual, “Alhamdullilah selama 4 hari pameran ada 2 lukisan yang terjual,” sela Titiek Ndaris, “selain itu ada pesanan dan ada juga lukisan yang terjual setelah beberapa hari pameran berakhir,” lanjut Titiek Ndaris, menegaskan.
Seperti diketahui, setelah secara resmi membuka pameran dan berkeliling melihat lukisan yang dipamerkan, Hani Pramono Anung kemudian segera kembali ke ruang kerjanya.
Akan tetapi, tak lama kemudian datanglah Wagub DKI, Rano Karno, melihat lukisan para perupa perempuan anggota Komppi yang berpameran di Balaikota DKI Jakarta.
Usai melihat pameran, Rano Karno, melayani para undangan dan pelukis untuk berfoto bersama.
Ketika ada salah seorang yang bertanya apa komentarnya setelah melihat lukisan yang dipamerkan, Wagub DKI Jakarta, Rano Karno, menjawab: “Lukisannya keren-keren ..!”
—
Penulis Toto Prawoto
Foto Dokumentasi


Leave a Reply